Pages

Monday, April 14, 2014

Resume Dhammadesana Aldo Sinatra

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammãsambuddhassa 

Kiccho manussapaṭilābho 
Kicchaṁ maccāna jīvitaṁ 
Kicchaṁ saddhammasavanaṁ 
Kiccho buddhānaṁ uppādo         (Dhp 182) 


Kiccho manussapaṭilābho 
Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia 

Perumpamaan Penyu dan Gelang pada Samyutta Nikāya 56.48 
“Para Bhikkhu, seandainya seluruh permukaan bumi ini tertutupi air. Kemudian seseorang melempar sebuah gelang. Gelang itu terhempas dari Timur ke Barat, Barat ke Timur. Utara ke Selatan, dan Selatan ke Utara. Kemudian ada seekor penyu membuta yang hanya muncul 100 tahun sekali ke permukaan. Akankah penyu buta itu dapat memasukkan gelang itu ke lehernya?” 

“Bhante, sungguh sulit bagi penyu buta itu memasukkan gelang ke lehernya.” 
“Demikian pula, sungguh sulit terlahir sebagai manusia. Sungguh sulit munculnya Tathagata, Arahat, Yang Mencapai Pencerahan Sempurna. Sungguh langka Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Tathagata

Kini kelahiran sebagai manusia telah didapat, Tathagata telah muncul di dunia, Dhamma dan Vinaya telah sempurna dibabarkan oleh Tathagata

Tugas kalian adalah mengembangkan batin dengan perenungan Dukkha, Sumber Dukkha, Akhir Dukkha, dan Jalan Menuju Akhir dari Dukkha.” 

Kicchaṁ maccāna jīvitaṁ 
Sungguh sulit Kehidupan Manusia 
  1. Akibat kelahiran (jāti), maka telah menjadi konsekuensi logis manusia akan mengalami rasa sakit, usia tua, kematian, penderitaan, penyesalan, kegetiran, kesedihan dan kekecewaan. 
  2. Atthalokadhamma / Delapan Kondisi Duniawi.  Untung (lābha) – Rugi (alābha), Tenar (yasa) – Tidak Tenar (ayasa),  Dipuji (pasamsa) – Dicela (nindā), Bahagia (sukha) – Menderita (dukha). 

Oh Atula, hal itu telah ada sejak dahulu dan bukan baru ada sekarang saja, di mana-mana orang yang duduk diam dicela, orang yang banyak bicara, orang yang sedikit bicara juga dicela. Tak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah dicela. 

Tidak pada zaman dahulu, waktu yang akan datang ataupun waktu sekarang, dapat ditemukan seseorang yang selalu dicela maupun yang selalu dipuji. (Dhammapada 227-228) 


Kicchaṁ saddhammasavanaṁ 
Sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar.

Di dalam Atthaka Nipāta dari Aήgutara Nikāya menjelaskan delapan waktu kehidupan dalam yang disebut sebagai “waktu yang salah (waktu yang tidak menguntungkan)” atau “kehidupan yang tidak beruntung”. 


Delapan kehidupan yang tidak beruntung adalah: 

  1. Kehidupan di alam yang terus menerus mengalami penderitaan (Niraya); ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena mengalami penderitaan dan siksaan terus menerus. 
  2. Kehidupan di alam binatang; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini selalu ketakutan sehingga tidak dapat melakukan kebajikan dan tidak dalam posisi yang dapat mengenali kebajikan dan kejahatan. 
  3. Kehidupan di alam peta; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena selalu merasakan kepanasan dan kekeringan, dan menderita kelaparan dan kehausan terus menerus.
  4. Kehidupan di alam Brahmā yang tidak mengalami kesadaran (asaññāsatta-bhūmi); ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat mendengarkan Dhamma karena tidak memiliki indera pendengaran. 
  5. Kehidupan di wilayah seberang dunia; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di wilayah tersebut tidak dapat dikunjungi oleh para bhikkhu, bhikkhuni, dan siswa-siswa Buddha lainnya; ini adalah tempat bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah; makhluk-makhluk di sana tidak dapat mendengarkan Dhamma meskipun mereka memiliki indera pendengaran. 
  6. Kehidupan di mana seseorang menganut pandangan salah; ini tidak menguntungkan karena seseorang yang memiliki pandangan salah tidak dapat mendengar dan mempraktikkan Dhamma meskipun ia hidup di Wilayah Tengah tempat munculnya Buddha dan gema Dhamma Buddha berkumandang di seluruh negeri.
  7. Terlahir dengan indera yang cacat; ini tidak menguntungkan karena sebagai akibat perbuatan buruk yang dilakukan di kehidupan lampaunya, kesadaran kelahirannya tidak memilki tiga akar yang baik, yaitu : ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidakbodohan (ahetuka-patisandhika); oleh karena itu ia memiliki indra yang cacat seperti penglihatan, pendengaran, dan lain-lain. Dan dengan demikian tidak dapat melihat seorang Buddha dan mendengarkan atau mempraktikkan Ajaran-Nya meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah dan tidak menganut pandangan salah. 
  8. Kehidupan di mana tidak ada kemunculan Buddha; ini tidak menguntungkan karena pada saat itu seseorang tidak dapat berusaha mempraktikkan Tiga Latihan moralitas (sīla), konsentrasi pikiran (samādhi) dan kebijaksanaan (paññā) meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah, memiliki indra yang baik dan menganut pandangan benar yaitu percaya akan hukum kamma. 


Kiccho buddhānaṁ uppādo 
Sungguh sulit munculnya seorang Buddha.

Tidak seperti delapan kehidupan yang tidak menguntungkan ini (akkhana), ada kehidupan kesembilan yang menguntungkan yang disebut Buddh’uppāda-navamakkhana karena dalam kehidupan ini, muncul seorang Buddha. 


Di dalam Eka-nipata dari Aήgutara Nikāya

Ekapuggalassa bhikkhave pātubhāvo dullabo lokasmiṁ, 
katamassa ekapuggalassa, Tathāgatassa Arahato Sammāsambuddhassa, 
imassa kho bhikkhave ekapuggalassa pātubhāvo dullabho lokasmiṁ

“Bhikkhu, dalam dunia kemunculan satu makhluk adalah sangat jarang; Kemunculan makhluk apakah? Tathāgata, yang layak menerima penghormatan tertinggi dan yang mengetahui Kebenaran dengan Pencerahan Sempurna; Kemunculannya adalah sangat jarang terjadi.” 

Anāthapindika _ seorang hartawan yang kelak menyumbangkan Vihāra Jetavana _ dalam suatu kunjungannya ke Rājagaha, ketika ia bertemu dengan Buddha pertama kalinya, mendengar kata “Buddha” dari saudara iparnya yang juga kayaraya di Rājagaha. Ia berseru, “Ghoso’pi kho eso gahapati dullabho lokasmiṁ yadidaṁ ‘buddho buddho’ti”, artinya “Teman, jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.” 

Ketika Buddha berdiam di Kota Āpana di Negeri Aήguttarāpa, seorang guru brahmana bernama Sela, mendengar kata “Buddha” dari Keniya _ pertapa berambut kasar. Begitu ia mendengarkata “Buddha” ia berpikir “Ghoso’pi kho eso dullabho lokasmiṁ yadidaṁ ‘buddho buddho’ti” artinya “Jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.” Tidak lama kemudian, ia bersama tiga ratus pengikutnya, menjadi ehi-bhikkhu dan tujuh hari kemudian mereka mencapai tingkat kesucian Arahatta. 


Untuk menerima ramalan pencapaian Pencerahan Sempurna, tahap pengembangan petapa Sumedhā memiliki delapan faktor berikut: 
  1. Ia adalah manusia.
  2. Ia adalah laki-laki.
  3. Telah memenuhi semua persyaratan untuk menjadi Arahatta dalam kehidupan itu juga.
  4. Bertemu dengan Buddha hidup.
  5. Ia adalah petapa yang percaya akan Hukum Kamma (Kammavādī) atau pernah menjadi anggota sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
  6. Telah mencapai jhana dan kemampuan batin tinggi.
  7. Berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa memedulikan hidupnya. Jika Buddha Dīpaήkarā dan empat ratus ribu Arahatta berjalan di atas punggungnya yang sedang bertiarap seolah-olah mereka berjalan di atas jembatan, ia tidak mungkin dapat bertahan hidup; memahami hal ini sepenuhnya, ia tanpa ragu-ragu dan bersemangat mempersiapkan dirinya melayani Buddha, tindakan ini disebut kebajikan yang sangat mendasar (adhikārakusala) menurut kitab 
  8. Keinginan yang kuat untuk mencapai Kebuddhaan; meskipun seluruh alam semesta ditutupi oleh bara api yang panas menyala dan mata tombak yang tajam, ia tidak akan ragu-ragu menginjaknya. 

Penceramah: Aldo Sinatra (Minggu, 13-04-2014) 
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra 

No comments:

 

Blogger news

Blogroll

About