Pages

Sunday, December 28, 2014

Resume Dhammadesana Upa. Sudhammayano Aldo Sinatra

Silakan klik tautan berikut untuk melihat slide power point dengan tema:




Setelah tulisan pernikahan bahagia yang berwarna merah di atas ini, Anda akan dibawa ke situs Medifire (tempat file ini disimpan), silakan klik tulisan View di kotak berwarna hijau jika Anda ingin melihat slide tersebut atau bisa juga Anda klik Download jika ingin menyimpan file ini.

Sunday, December 14, 2014

Resume Dhammadesana Romo Pardjo


Kita bangga sebagai bangsa Indonesia, karena negara ini kaya akan berbagai sumber daya alam. Hasil tambang dan berbagai jenis flora dan faunanya. Ibarat seperti kolam susu, tanahnya subur dan makmur.

Tapi kita pun kecewa bila melihat ke atas, para pemimpin dan pejabat negeri ini akan kurangnya moral, berkualitas rendah, dan mementingkan diri sendiri. Mereka mengalami kebobrokan mental. Oleh sebab itu, dalam era kepemimpinan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, program pertamanya adalah Revolusi Mental. Agar kualitas hidup manusianya meningkat.

Dibanding hewan ataupun tumbuhan, manusia adalah makhluk sempurna. Yang memiliki akal pikiran dan kemoralan. Siapakah sesungguhnya yang disebut dengan manusia itu?
Menurut agama Buddha, dijelaskan secara lengkap dalam Aganna Sutta. Arti sebenarnya dari manusia berasal dari mano dan ussa. Mano artinya batin dan ussa adalah luhur. Jadi manusia adalah batin yang luhur.

Kita terlahir sebagai manusia itu merupakan suatu keberuntungan yang sangat luar biasa. Di dalam Samyutta Nikaya, diibaratkan seekor penyu buta yang muncul seratus tahun sekali ke permukaan laut, dan lehernya memasuki cincin kayu. Begitu sulitnya terlahir sebagai manusia. Kiccho manussa patilabbho.

Makhluk-makhluk yang ada di semesta ini ibarat seperti pasir di pantai. Banyak makhluk yang terlahir di alam apaya. Baik itu sebagai makhluk hewan, peta, asura maupun di neraka.

Di dalam syair Dhammapada 182, disebutkan:
Sungguh sulit terlahir sebagai manusia, sungguh sulit kehidupan manusia, sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar, dan sungguh sulit munculnya seorang Buddha.

Di dalam diri manusia terdapat dua potensi. Potensi duniawi dan potensi spiritual. Ada beberapa kategori manusia, berdasarkan karakteristiknya:

  1. Manusssa Peto, didominasi keserakahan/lobha. Misalnya, korupsi, mencuri, ingin menguasai. 
  2. Manussa Tiraccano, berwatak seperti binatang. Didominasi oleh kebodohan, sehingga tidak dapat melakukan yang baik. 
  3. Manussa Manusso, memiliki sifat-sifat luhur.

Cita-cita umum semua manusia menginginkan kebahagiaan duniawi. Tapi kebanyakan berpikir berupa materi. Dalam bahasa umum jadi orang kaya. Apakah untuk menjadi kaya, kita perlu berdoa dan meminta menjadi kaya? Sebagai umat Buddha kita boleh berdoa, tetapi bukan untuk meminta. Melainkan berharap. Misal, semoga kita berhasil, sukses dan kaya. Tentu dengan diiringi tindakan.

Ada beberapa yang perlu menjadi dasar dalam mewujudkan harapan kesuksesan tersebut:

  1. Memiliki tekad (addhitana). Ada kemauan, kehendak yang sungguh-sungguh.
  2. Kesungguhan, keuletan, telaten. Terus menerus dan pantang menyerah.
  3. Kesabaran (khanti). Kita kerap diuji dalam jalan mewujudkan harapan, untuk melatih kesabaran kita.

Untuk mencapai kebahagiaan spiritual, diperlukan usaha. Seperti Siddhatta dapat mencapai pencerahan sempurna. Kita hendaknya meneladani sikap-sikap baik dari Guru Agung kita.
Agar tidak terjerumus dalam tindakan-tindakan negatif dan mempertahankan karakter diri sebagai manussa manusso, hendaknya kita memiliki:
  • Pengendalian diri/samvara
  • Memberdayakan hiri dan ottapa


Sebagai umat awam, pengendalian diri kita paling mendasar adalah mengamalkan Pancasila Buddhis, setidaknya Anda telah memiliki fondasi yang kuat memegang kunci dari pintu surga. Terlebih pada waktu uposatha menjalankan atthasila.
Silena sugatim yanti. Dengan melaksanakan sila, akan terlahir di alam bahagia.
Kendala di dalam menjalankan sila, adalah kemalasan. Misal datang ke vihara. Sarannya, adalah saling menghampiri. Agar bila ada yang ogah-ogahan datang ke vihara, akan timbul rasa sungkan karena didatangi teman-temannya, sehingga timbul semangat untuk aktif datang ke vihara.



Penceramah: Romo Pardjo (Minggu, 14 Desember 2014) 
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra

Sabe Sankhara Anicca

Telah meninggal dunia dengan tenang, 

Bapak Otong Wijaya (usia 72 tahun)
(suami Ibu Liana)

Minggu, 14 Desember 2014 pukul 15.40 WIB

Disemayamkan di Rumah Duka Nana Rohana ruang I dan J

Pembacaan paritta duka

Senin, 15 Desember 2014 pukul 19.00 WIB
Ruang Duka Parahyangan

Selasa, 16 Desember 2014 pukul 19.00 WIB
Ruang Duka Parahyangan

Rabu, 17 Desember 2014 pukul 19.00 WIB
Ruang Duka Parahyangan

Kamis, 18 Desember 2014 pukul 13.00 WIB
Ruang Duka Parahyangan

Jumat, 19 Desember 2014 pukul 17.00 WIB
Ruang Duka Parahyangan

Sabtu, 20 Desember 2014 pukul 08.00 WIB
Ruang Duka Parahyangan

Tutup peti
Kamis, 18 Desember 2014 pukul 19.00 WIB
Ruang Duka Parahyangan

Kremasi PM Cikadut Bandung
Sabtu, 20 Desember 2014
Berangkat dari RD pukul 09.00 

NB: Kepada saudara se-Dhamma diharapkan kehadirannya.


Sunday, November 30, 2014

Resume Dhammadesana Romo Suyanto


Tiap uposatha tanggal 15, para bhikkhu mengadakan upacara, berkumpul untuk saling berhadapan, mengakui berbagai kesalahan, dengan tujuan agar melepas beban. Membersihkan pikiran. Hal ini disebut pavarana.

Kalau samanera mengakui kesalahan di hadapan para bhikkhu  disebut danda kamma. Artinya, menerima denda. Hukumannya misalkan membersihkan vihara (seperti WC, dapur, altar, mengepel lantai, menyapu, dan sebagainya). Hal ini memiliki tujuan sebagai bahan perenungan. Bahwa ketika mengelap WC, timbul pemikiran, “Dengan membersihkan WC yang dari kotor menjadi bersih. Demikian pula, batinku dapat bersih, dengan terus-menerus membersihkannya.”

Bila Vasudeva Khrisna mampu menutupi matahari dengan cakra sudasana-nya, maka kita pun dapat menutupi bumi yang luas ini dengan selembar daun. Pengen tahu caranya? Anda dapat meletakkan selembar daun tersebut ke kedua mata Anda. Dengan demikian, Anda tidak dapat melihat dunia ini, alias gelap.
Demikian pula, bila mata batin kita, pikiran kita, tertutup oleh kekotoran batin/kilesa. Maka segalanya tampak gelap oleh kekotoran batin.
Pikiran adalah sumber segala sesuatu. Jangan menutupi pikiran dengan hal-hal yang buruk. Tidak memasukkan hal-hal negatif di dalam gerbang pikiran kita. Hal tersebut dapat menghindarkan diri kita dari gossip dan perbincangan-perbincangan buruk tentang diri kita.

Apa yang kita lihat, belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Semua memasuki indra kita. Kalau tidak kita saring dengan baik, akan mengotori pikiran kita. Seperti halnya rumah yang atapnya buruk, air hujan dapat merembes masuk. Demikian pula dengan pikiran kita yang tidak kokoh, maka nafsu-nafsu rendah dapat merasuk ke batin kita.

Untuk membentengi nafsu-nafsu rendah, kita dapat mempraktikkan 7 bhojjango:

  1. Sati: sadar, eling, mengingat. Introspeksi diri apa yang telah kita lakukan masih menyakiti orang lain? Bila iya, berarti kita belum menjalankan Ajaran Buddha 
  2. Dhammavicayo: penyelidikan Dhamma. Apa pun yang kita rasakan atau alami, kita selidiki benar atau tidaknya. Tidak diterima begitu saja. Seperti ehipassiko. Setelah diselidiki dengan seksama, tidak merugikan pihak lain, dapat kita praktikkan. 
  3. Viriya: semangat. Ditopang dengan semangat, kita dapat belajar dengan lebih baik. 
  4. Passaddhi: ketenangan jasmani dan batin. 
  5. Piti: kegiuran. Sesuatu yang tidak dikondisikan tidak timbul kegembiraan, malah muncul keengganan. Oleh sebab itu, dengan timbulnya kegembiraan, muncul kegiuran. Untuk mengulang-ulang kebajikan. 
  6. Samadhi: konsentrasi dengan penuh perhatian.
  7. Upekkha: keseimbangan batin. 

Penceramah: Romo Suyanto (Minggu, 30 November 2014) 
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra

Monday, November 24, 2014

Perayaan Ultang Tahun ke-38 Magabudhi

Minggu, 23 November 2014 adalah puncak perayaan ulang tahun Magabudhi (Majelis Agama Buddja Theravada Indonesia), bertempat di Vihara Karuna Mukti, Bandung. Perayaan ulang tahun ini ditandai dengan pemotongan tumpeng dan pemberian piagam kepada pandita yang sudah mengabdi 8 tahun ke atas.

Rangkaian acara perayaan ultah Magabudhi sebelumnya adalah kunjungan ke para sesepuh (Minggu, 09 November 2014) dan fang sen (pelepasan makhluk hidup ke alam) di kawasan Dago Pakar pada Minggu, 16 November 2014.

Perayaan diakhiri dengan makan nasi tumpeng bersama. Selamat ulang tahun Magabudhi, "Tulus Mengabdi Tiada Henti." (zwei)

Sunday, November 09, 2014

Resume Dhammadesana Romo Jayana Joansyah

Ceramah Romo Jayana menggunakan slide power point, silakan saksikan slide-nya (klik saja tautan, tulisan berwarna merah berikut), setelah masuk ke situs mediafire, silakan klik tulisan View (kotak warna hijau)





Untuk mengganti gambar slide, silakan tekan tombol panah ke kanan (-->). Selamat menyaksikan...

Sunday, November 02, 2014

Resume Dhammadesana YM. Bhikkhu Santidaro

Renungan Puja Bakti Sanghadana di masa Kathina oleh YM. Bhikkhu Santidaro.

Masa Kathina tahun 2014 ini, dilakukan mulai tanggal 09 Oktober - 10 November 2014.

Setelah masa vassa 3 bulan berdiam di vihara, para bhikkhu menjalankan Dhamma lebih intensif.

Kecuali alasan-alasan tertentu, seperti orang tua sakit, bhikkhu lepas jubah, menerima undangan para umat seperti dana makanan, bila kuti-nya rusak, untuk mencari bahan-bahan untuk memperbaikinya, para bhikkhu tinggal di vihara. Tetapi tidak diperbolehkan melebihi 7 hari lamanya. Bila melebihi 7hari, maka masa vassa-nya tidak diperhitungkan.

Sehari setelah masa vassa selesai, memasuki masa kathina, umat bersuka cita melaksanakan dana kepada Sangha.

Bagaimana berdana yang mendatangkan manfaat yang sangat besar:

  1. Cetana sampada. Memiliki cetana/kehendak yang baik, sebelum, saat dan setelah berdana. Pubbe cetana: sebelum berdana, mendengar kabar akan berdana, memiliki niat yang baik untuk ikut berdana. Munca cetana: saat berdana memiliki niat yang baik, penuh dengan ketulusan. Aparapara cetana: sesudah berdana, memiliki niat yang baik, penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan, tidak kecewa dan tanpa penyesalan. Yang terpenting dari ketiganya, yaitu setelah berdana, yaitu berbahagia. Tidak timbul penyesalan dan kekecewaan. 
  2. Catu sampada. Barang yang didanakan. Adalah barang yang halal, bukan dari penipuan, perampokan, penjualan narkoba, dan sebagainya. Barang yang layak pakai, bukan yang sudah rusak. 
  3. Puggala sampada. Orang yang diberi dana. aalah orang yang memiliki sila yang baik. Berdana kepada siapa pun tetap akan mendapatkan pahala. Kepada orang jahat, maupun kepada hewan sekali pun. Tetapi kepada orang yang memiliki sila, pahalanya jauh lebih besar. Kepada orang yang memiliki kesucian sotapana sangat besar dibanding orang biasa. Kepada orang yang mencapai kesucian sakadagami lebih besar daripada sotapana. Kepada anagami akan lebih besar dari pada sakadagami. Kepada arahat lebih besar daripada kepada anagami. Berdana dengan berharap ketenaran, dipuji, memiliki kekayaan, terlahir di alam surga adalah berdana tingkat rendah. Yang tertinggi adalah berdana dengan niat terbebas dari kekotoran batin atau merealisasikan pencerahan. 
 
Penceramah: YM. Bhikkhu Santidaro (Minggu, 02 November 2014) 
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra

Monday, October 20, 2014

Perayaan Kathina 2014 di Vihara Karuna Mukti

Minggu, 19 Oktober 2014 diadakan perayaan Kathina di Vihara Karuna Mukti, Bandung. Kathina kali ini dihadiri 2 bhikkhu: Bhikkhu Pannanando dan Bhikkhu Santadhiro. Umat yang hadir sekitar 150 orang. Berikut rekaman gambar dan video perayaan Katihina tersebut...






























Ramah Tamah (Santap Siang)







Video:








Video lain menyusul (sedang disiapkan)

Monday, September 22, 2014

Resume Dhammadesana Dr. Romo Surya Widya, SpKJ

Jalan ke Surga (Menjadi Dewa-Dewi)

Untuk terlahir di surga:
  1. Menjalankan sila
  2. Memiliki saddha yang kuat
  3. Matthakundali (tanan dana & sila, hanya memiliki saddha)
  4. Dharmayatra (mengunjungi 4 tempat suci)

Melalui pattidana

Melimpahkan jasa-jasa kebajikan kepada para leluhur

Ibunda Sariputta- Raja Bimbisara. 

Melatih kesabaran
Bhante Maha Moggalana

Memiliki Jhana
Alara Kalama- Uddaka Ramaputta

Memiliki kesucian

Anagami terlahir ke alam surga atau alam brahma (suddhavassa)

Yang tidak memiliki jhana akan terlahir di alam surga

Melahirkan calon Sammasambuddha

Ratu Maha Maya 
Dewi paling lama hidup 7 hari setelah melahirkan calon Sammasambuddha

Menjadi istri yang baik
Seperti ibu, saudara, teman lama, pembantu

Smoga aku selalu berlindung pada Sang Tiratana sampai terbebas dari semua dukkha.


Penceramah: Dr. Romo Surya Widya, SpKJ (Minggu, 21 September 2014)  
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra

Sunday, August 17, 2014

Resume Dhammadesana Sudhammayano Aldo Sinatra








Melepas Dukkha Menuai Merdeka.

Melepas Kemelekatan Menggapai Bahagia.

Diṭṭhiñca anupagamma      Sīlavā dassanena sampanno

Kāmesu vineyya gedhaṁ   Nahi jātu gabbhaseyyaṁ punaretīti.



Ia yang mengembangkan mettā, tak berpandangan salah,

teguh dalam sīla dan berpengetahuan sempurna,

dan melenyapkan kesenangan nafsu indria,

tak akan lahir dalam rahim lagi.



Romo-Ramani, Ibu-Bapak, Saudara-saudari se_Dhamma yang berbahagia,

Salam Buddhist dari saya, Namo Buddhaya…



Kebetulan hari ini, tepat bangsa ini merayakan hari kemerdekaannya yang ke-69. Maka kiranya, izinkan saya mengutip salah satu pidato dari Bapak Pendiri Negara ini, Bung Karno pada peringatan kemerdekaan keVI berikut :


“Hukum dan Moral”


Seorang penulis berkata, mempelajari sejarah adalah omong kosong, “History Bunk”, katanya. Penulis ini tidak benar. Sejarah adalah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu adalah : bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar dan makmur tanpa kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu “kristalisasi” keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah.


Bangsa Indonesia, petiklah moral dari hukum ini!



Banyak pelajaran yang dapat kita petik hikmahnya dan masih update hingga kini, antara lain tiada keberhasilan tanpa keringat, tidak da yang jatuh dari langit. Dan selalu pesan dari Bung Karno adalah Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!



Timbul pertanyaan kini : Apakah kita sudah merdeka?


Secara yuridis, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini telah diakui oleh dunia. Meski berbagai bangsa Eropa, khususnya penjajah Belanda baru mengakui kemerdekaan kita pada 27 Desember 1949. (Pada Konferensi Meja Bundar).



Sedikit mengingat peristiwa jelang Pilpres 2014 lalu, pada acara Mata Najwa di Metro TV, Presiden Terpilih Bapak Joko Widodo (ketika itu capres) mendapat pertanyaan dari sang host Najwa Shihab, “Apa yang kelak Bapak perjuangkan selaku Presiden RI demi Palestina yang kini diserang oleh kekuatan militer Israel?”


Beliau menjawab, “Di dalam konstitusi kita UUD’45 jelas, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, kami akan mendukung Negara Palestina untuk meraih kemerdekaannya.”


Bahkan beberapa pengamat politik akhir-akhir ini, menilai dan memberikan pengharapan, bahwa presiden terpilih adalah presiden yang lahir dari perjuangan HAM dan bebas dari permasalah HAM, ketika Bapak Jokowi menyusun pemerintahan di rumah transisinya.



HAM (Hak Asasi Manusia), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah:

“Hak yang dilindungi secara internasional (yaitu deklarasi PBB, Declaration of Human Rights), yaitu Hak untuk Hidup, Hak Kemerdekaan, Hak untuk Memiliki, Hak untuk Mengeluarkan Pendapat.”



Di dunia ini, perjuangan HAM bukanlah barang baru. Semenjak tahun 1215 (15 Juni) di Inggris dengan Magna Charta-nya, untuk menggulingkan Raja John yang memiliki kuasa absolute. Kemudian, Bill of Rights 1689 masih di Inggris, di mana ditetapkan manusia semua sama di muka hukum (equality before the law), sehingga menimbulkan negara hukum dan demokrasi semenjak itu. Muncullah banyak pemikir di Eropa. Dari JJ. Roesseau yang mengeluarkan teorinya, the contract social/perjanjian masyarakat. Montesquie dengan Trias Politica-nya. John Locke di Inggris, yang menganggap HAM sebagai hak kodrati pemberian dari Tuhan, hingga Thomas Jefferson di AS yang meletakkan hak-hak dasar kebebasan dan persamaan yang tertuang di piagam kemerdekaan, The American Declaration of Independence (4 Juli 1776).


Selanjutnya pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration, yang melahirkan The Rule of Law. Antara lain dinyatakan, tidak boleh ada penangkapan semena-mena, termasuk ditangkap tanpa alasan dan surat perintah. Dinyatakan Presumption of Innocence, artinya orang-orang yang ditangkap kemudian dituduh, berhak dinyatakan tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. Dipertegas juga dengan Freedom of Expression (kebebasan mengeluarkan pendapat), Freedom of Religion (kebebasan menganut keyakinan/agama yang dikehendaki), dan The Right of Property (perlindungan terhadap hak milik). Setelah PD II, setelah kebengisan Hitler dan NAZI-nya, maka PBB pada 10 Des 1948 mengeluarkan The Universal Declaration of Human Rights.


Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makna ganda. Ke luar adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar Negara-bangsa, agar terhindar dan terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang dapat menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Makna ke dalam harus menjadi criteria objektif oleh rakyat dari masing-masing Negara dalam menilai setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahnya.



Kembali lagi, berdasarkan pengertian HAM di atas, apakah benar kita memilik hak untuk hidup? Hak merdeka? Hak memiliki? Dan hak mengeluarkan pendapat?



Hak mengeluarkan pendapat?

Sejak era reformasi, dunia pers tampak begitu bebas hingga keblinger dalam mewartakan berita. Bahkan terkadang mengumbar kehidupan pribadi seorang public figure ke khalayak ramai. Akhir-akhir ini pun, media tanpa segan dan secara objektif memberikan “kebenaran” sepihak demi kepentingan suatu elit tertentu, organisasi atau pun partai memberikan dukungan tanpa etis.



Hak memiliki?

Di dalam Dhamma, kita diajarkan Sang Guru yang disebut Ditta Dhammi Kattha 4. Antara lain, utthana sampada, arakkha sampada, kalyanamittata, dan samajivita. Setelah dengan rajin dan semangat memperoleh hasil kerja dengan keringat sendiri, seseorang perlu memiliki kehati-hatian menjaga hartanya. Serta dianjurkan memiliki sahabat yang baik dan hidup seimbang sesuai penghasilannya.


Namun, yang terjadi. Setelah terpicu era reformasi yang masih memiliki alur yang kabur dan semrawut, yang terkendali oleh informasi yang hiperbolis menimbulkan suatu kelas menengah yang hedonis dan konsumtif. Dan menimbulkan perlombaan gegayaan dan menebar iri dengki.


Masih ingat iklan rokok, Rumput tetangga lebih hijau dari rumput di tamanmu sendiri (yang ternyata rumput tetangga imitasi…hehe)???



Hak merdeka?


Merdeka memiliki keyakinan sesuai agama yang diyakininya masing-masing. (seperti termaktub dalam UUD’45 pasal 29 ayat 1)


Merdeka memiliki keamanan selaku warga Negara (UUD’45 pasal 30 ayat 1)


Merdeka untuk memiliki pendidikan setinggi dan semampunya (UUD’45 pasal 31 ayat 1)

Namun, kini kita mendengar berita yang miris bahwa organisasi teroris radikal bernama ISIS mulai merasuk ke sendi-sendi bangsa ini. Di mana organisasi ini menggunakan berbagai macam cara untuk melegalisasi segala bentuk kekerasan untuk mancapai visi tujuannya.


Di dalam sejarah peradaban yang tercatat, mungkin hanya Sang Buddha yang pergi ke medan perang, bukan dengan mengangkat senjata melainkan mencegah perang meletus. (Kisah perebutan Sungai Rohini antara suku Sakya dan Koliya).


Akhir-akhir ini, kita pun mendengar tuntutan dari para orang tua/wali siswa untuk pendidikan gratis yang dislogankan para pejabat yang tak kunjung terealisasi. Asumsinya mereka mengeluarkan biaya 3,6juta/tahun yang semestinya free biaya sekolah. (mohon dimaklumi bila itu adalah sekolah negeri. Bila swasta, bagaimana sebuah yayasan/organisasi sekolah memberikan infrastruktur yang layak bagi anak didik dan bagaimana mereka menghidupi para pengajarnya? Tentu tidak dapat digenerallisasi)



Hak untuk hidup?


Saya berbagi 2 kisah nyata berikut :

Pertama, kasus Gammy. Bayi warga Negara Australia yang mengalami down syndrome, dan kasus klinik IVF (In Vitro Fertilisation). Di mana pemerintah Thailand menetapkan kebijakan menutup klinik-klinik tersebut yang menyediakan jasa ibu pengganti atau rahim pinjaman. Namun, pihak pemerintahan Australia berupaya untuk mencegah atau minimal mengundurkan kebijakan tersebut agar para bayi terlahir terlebih dahulu.


Kedua, tahukah Anda? Terdapat pernyataan tragis dan mencengangkan, sang ibunda megabintang sepakbola dunia, Christiano Ronaldo hampir saja melakukan aborsi terhadap sang jabang bayi yang tak dikehendaki. Bila itu terjadi, mungkin para pecinta olahraga paling tenar sejagat ini tidak akan mengenal sosok pemain terbaik 2008 dan 2013 tersebut.



Semua yang saya sharingkan di atas, di dalam Dhamma disebut Dukkha Ariya Sacca.

Segala yang terkondisi dan perpaduan mengandung dukkha.


Segalanya tak terhindar dari 4pasang angin perubahan, yaitu suka-duka, tenar-terkucil, untung-rugi, dipuji-dicela.


Penderitaan biasa (Dukkha-Dukkha), penderitaan karena perubahan (Viparinama-Dukkha), penderitaan karena memiliki badan jasmani (Sankhara-Dukkha)



Dan segala dukkha tersebut ada penyebabnya. Dukkha Samudaya.

Bahwa penyebab utama permasalahan dan segala penderitaan manusia adalah nafsu mementingkan diri yang bercokol kuat di dalam batin kita. Buddha mengungkapkan bahwa terdapat tiga jenis kekuatan nafsu dalam batin kita, yaitu nafsu untuk pemuasan indrawi (kama tanha), nafsu untuk eksis (bhava tanha) dan nafsu untuk tidak eksis (vibhava tanha).


Para filsuf dan psikolog terkenal di dunia telah menjelaskan ketiga kekuatan ini, dengan istilah yang berbeda. Penulis Jerman, Arthur Schopenhauer, menyebutnya sebagai seksualitas, pertahanan diri dan bunuh diri. Psikolog Austria, Sigmund Freud, menjelaskannya sebagai berahi, naluri ego dan naluri kematian.


Masih hangat dalam ingatan kita, karena depresi hebat seorang comedian dan actor watak ternama, Robin Williams meninggal karena gantung diri. Seorang seniman terbesar abad ini, Michael Jackson pun tak dapat lepas dari kecanduan obat tidur.


Pesan dari YM Bhante Uttamo, “ketika keinginan lebih besar dari kebutuhan, timbul rasa stress, depresi, dukkha. Maka dari itu, hendaknya kita dapat mengendalikan keinginan selaras dengan kebutuhan kita.”



Adalah kenyataan bahwa kita harus menghadapi masalah demi masalah sepanjang hidup kita, dan tidak ada cara untuk menghindarinya. Misalnya, kita tidak bisa menghindar dari penyakit, penuaan dan kematian.


Di dalam Dhamma, kita hendaknya kerap kali melakukan perenungan (abhinhapaccavekkhana) yang juga tertuang dalam Anguttara Nikaya V.


“Bahwa kita belum bebas dari usia tua, penyakit dan kematian. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak menyombongkan diri/angkuh terhadap kemudaan, kesehatan dan masa hidup kita.


Serta berbagai bentukan adalah tidak kekal, sehingga wajar untuk terpisah dari kita.


Oleh sebab itu, hendaknya kita perlu memiliki keseimbangan batin, dengan merenungi bahwa segala sesuatu baik atau pun buruk adalah memiliki karma perbuatannya masing-masing.”



Terlepas dari itu, sebagian permasalahan diciptakan oleh manusia itu sendiri berdasarkan pemahaman duniawi mereka terhadap kehidupan. Sebagian masalah diciptakan oleh pikiran, yang disebabkan oleh khayalan, kegelapan batin, kecurigaan dan ketakutan. Dengan melanggar cara hidup yang etis, manusia mengusik kedamaian dan kebahagiaannya sendiri maupun orang lain.


Di dalam Ajaran Buddha, kita dibekali “doa”/pengharapan di paritta suci, yaitu brahmavihara. Alih-alih pengharapan semu, secara aktif kita memancarkan metta/cinta kasih, sebelum ke arah luar, kita memancarkan ke dalam diri sendiri  terlebih dahulu, yaitu dengan berharap semoga kita berbahagia, gimana agar bahagia? Yaitu semoga kita bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian yang disebabkan karena mendengki, bebas dari kebencian dan ingin menyakiti, bebas dari kesukaran.


Dalam Samyutta Nikaya 47:19, dengan memberikan perumpamaan ahli acrobat dan gurunya untuk saling melindungi dengan cara mereka melindungi diri sendiri masing-masing, agar dapat saling menjaga dan melindungi.


Logikanya, bilamana kita tidak dapat menjaga batin ini dengan sila yang memadai, bukan hanya kita menciderai batin ini dengan kilesa/kekotoran, juga menyebabkan ketidakamanan bagi orang-orang di lingkungan kita akibat kita abai terhadap etika.



Selain sila, kita dapat mengembangkan batin dengan Samadhi. Lebih dalam lagi, kita dapat menjalankan perenungan terhadap nama-rupa. Seperti termaktub dalam Phenapindupama Sutta dari Samyutta Nikaya, yang menjelaskan:


“Tubuh jasmani seperti buih air di dalam arus sungai, perasaan seperti gelembung air, pencerapan seperti fatamorgana, bentuk-bentuk pikiran seperti batang pohon pisang dan kesadaran seperti ilusi dalam pertunjukan sulap.”



Dengan Samadhi yang dalam, maka akan timbul kebijaksanaan. Menyadari realita hakiki bahwa karena terjebak dalam kemelekatan terhadap batin-jasmani yang hanya ilusi belaka seperti dalam sutta di atas, kita terus terbelenggu oleh rantai samsara.


(Di dalam hukum sebab musabab yang saling bergantungan, kita dapat melepas upadana/kemelekatan, yaitu dengan mencegah tanha/nafsu keinginan, yang disebabkan oleh vedana/perasaan sukha ataupun dukkha)



Singkat cerita, sebuah kemerdekaan di dalam Dhamma, adalah merdeka dari segala bentuk kesesatan batin, nafsu serakah dan amarah kebencian. Hal ini karena lemahnya kesadaran kita terhadap fakta akan anicca, dukkha dan anatta.  



Semoga esensi dari Dhammadesana ini bermanfaat bagi para pendengar.

Semoga berkat jasa-jasa kebajikan yang diperbuat, para pendiri bangsa, para pahlawan yang telah merenggang nyawa demi terwujudnya Indonesia merdeka berbahagia di alam-alam yang baik


Semoga para leluhur yang telah meninggal baik di kehidupan saat ini maupun di kehidupan yang lampau, yang memiliki hubungan karma dengan kita berbahagia di alam-alam berbahagia


Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Sabbe satta bhavantu sukhitata

Sadhu sadhu sadhu



Mettacittena,



Sudhammayano Aldo Sinatra


Penceramah: Sudhammayano Aldo Sinatra (Minggu, 17 Agustus 2014)  
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra
Dimuat sesuai naskah asli tanpa proses edit.


 

Blogger news

Blogroll

About