Kisah Kelahiran Bodhisatta di
Taman Lumbini
(Majjhima Nikāya 123)
Tatkala usia
kehamilan sepuluh bulan, Ratu Mahamaya ingin mengunjungi orangtuanya ke
Devadaha, Kosala. Seperti tradisi turun temurun di India, bahwa seorang istri
melahirkan di rumah ayahnya sendiri.
Ketika arakan kerajaan memasuki sebuah hutan pohon Sāla
(Shorea robusta) untuk wisata, yang disebut Taman Lumbinī, antara Kapilavatthu
dan Devadaha.
Ratu Mahamaya ingin
berjalan-jalan menghibur diri menikmati keindahan taman yang bagai Taman
Cittalatā milik Deva Sakka.
Ketika tangan
kanannya menjulur menggapai salah satu dahan, terjadi keajaiban bahwa salah
satu dahan lurus menekuk ke bawah dengan sendirinya bagai batang tebu sampai
mencapai telapak tangan sang ratu. Sembari berpegangan pada dahan pohon sāla,
ia melahirkan bayi laki-laki dalam posisi berdiri. Kejadian ini terjadi pada
bulan purnama bulan Vesākha, tahun 623 SM.
Kemudian
Boddhisatta berdiri dengan kukuh, memandang ke sepuluh penjuru, menyadari tiada
satu makhluk pun yang lebih luhur dari-Nya. Ia menghadap ke utara dan berjalan
maju tujuh langkah. Bunga teratai muncul dari tanah di bawah setiap jejak
telapak kaki-Nya.
Bodhisatta
berhenti pada langkah ketujuh, mengangkat tangan kanan di atas kepala-Nya,
dengan lantang Ia berseru:
“Aggo’haṁ asmi lokassa!
Jeṭṭo’haṁ asmi lokassa!
Seṭṭo’haṁ asmi lokassa!
Ayaṁ antima jāti!
Natthi dāni punabbhavo!”
“Akulah yang terluhur di dunia ini!
Akulah yang teragung di dunia ini!
Akulah yang termulia di dunia ini!
Inilah kelahiran-Ku yang terakhir!
Tak aka nada lagi kelahiran kembali bagi-Ku!”
Bersamaan dengan kelahiran Bodhisatta,
terlahir pula tujuh makhluk lainnya, yaitu: Putri Yasodharā, Pangeran Ānanda,
kusirnya Channa, menteri Kāludāyī, kuda istana Kanthaka, pohon Bodhi dan empat
jambangan harta (Nidhikumbhi).
Inspirasi
yang dapat dipetik:
- Kelahiran Bodhisatta di alam terbuka, menunjukkan kedekatan dengan
alam.
- Dengan PD dan saddha (keyakinan)-Nya, bahwa ia merasa yakin dan pasti,
bahwa inilah kelahiran terakhir-Nya, tiada makhluk yang memiliki kepastian
keyakinan seperti yang Ia sampaikan
- Berbagai “keanehan” yang menyertai kelahiran-Nya merupakan wujud
kebesaran dan naungan parami yang dikumpulkan-Nya.
Bagi para kaum skeptik, pasti meragukan bahwasannya seorang bayi yang
lahir dapat langsung berjalan tujuh langkah dan berbicara.
Tetapi, mohon diingat, ketika Ia ber-addhitana (tekad) menjadi
Sammasambuddha, sesungguhnya ia sudah dapat merealisasikan kesucian penuh
Arahatta pada kehidupan itu juga. Namun, karena Mahakaruna (welas asih luhur)
kepada semua makhluk serta upaya kosala nana (upaya piawai), Ia menunda kesempurnaan-Nya.
Pikiran petapa Sumedha ketika menelungkupkan diri di rawa berlumpur
sambil bercita-cita menjadi Buddha: “Jika memang kukehendaki, bisa saja aku
mengenyahkan semua noda batin (āsava) dan membasmi semua kekotoran batin
(kilesa) hari ini juga dan menjadi Arahāt. Akan tetapi, apalah gunanya
menghindari lingkaran kelahiran dan kematian (saṁsāra) ini sendirian saja? Dengan kepiawaian-Ku dalam keyakinan, daya dan
kebijaksanaan, aku akan mengerahkan usaha sebaik mungkin untuk menjadi Buddha
Mahatahu dan membebaskan segenap makhluk dari lingkaran kelahiran, samudera
penderitaan ini.”
Kisah
Pencapaian Pencerahan Petapa Gotama Menjadi Buddha
(Majjhima Nikāya 36,
Dhammapada 154)
Setelah melewati enam tahun masa dukkharacariya, Bodhisatta menuju ke
Hutan Gayā, ke kaki pohon Bodhi (Pāli: assattha, Latin: Ficus religiosa).
Ketika itu di kediamannya di dunia Paranimmitavasavattī-Deva, Marā
memerintahkan prajuritnya menebar rasa ngeri menyerang, menaklukkan,
menghancurkan, serta mengguncang Pangeran Siddhatta dengan menunggang gajah
bengis Girimekhala. Namun pikiran-Nya tetap tercerap dalam meditasi yang
dalam.
Ada sepuluh pertanda buruk kedatangan
Marā: 1) ribuan meteor jatuh dengan lebat dan menakutkan, 2) kegelapan total
timbul seiring dengan munculnya halimun, 3) samudera dan bumi berguncang dengan
keras, 4) kabut muncul di samudera, 5) banyak sungai yang airnya mengalir ke
hulu, 6) puncak-puncak gunung runtuh ke tanah, 7) banyak pepohonan yang
tumbang, 8) badai dan angin bertiup dengan kencang, 9) badai dan angin keras
menimbulkan suara yang menakutkan, 10) matahari lenyap ditelan kegelapan dan
tubuh-tubuh tanpa kepala berterbangan di angkasa.
Akan
tetapi, Bodhisatta tetap duduk dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun,
laksana raja singa Kesaraja yang duduk dengan tenang di antara hewan lainnya.
“Begitu hebatnya serangan Marā ini
terhadap diri-Ku; ibu-Ku, ayah-Ku, saudara-Ku, maupun anggota keluarga-Ku yang
lain, tak satu pun dari mereka berada di sini. Hanya Sepuluh Kesempurnaan
(Pārāmī) yang telah Kukembangkan dan Kulatih sedemikian lamanya inilah yang
akan menemaniKu dan menjadi pelindungKu satu-satunya. Tak satu pun hal
lainnyayang dapat Kuandalkan untuk menghalau gerombolan Marā ini, kecuali
senjata Pārāmī-Ku.
Awalnya Marā menciptakan topan badai, lalu
awan tebal dengan hujan sangat deras, kemudian menghujani senjata panas;
tombak, pedang, Mandau, pisau jagal, anak panah, seperti batu menyala. Namun
sesampai Bodhi Mandala, semuanya berubah menjadi aneka ragam kembang surgawi.
Marā
kemudian menyiramkan debu-debu panas dari langit, yang akhirnya menjadi serbuk
cendana ketika mendekati kaki Bodhisatta. Kembali ia menciptakan pasir berasap
yang menyala-nyala, berubah menjadi bubuk bunga surgawi. Setelah itu, menyerang
dengan lumpur panas, berubah jadi ramuan wangi surgawi.
Lalu,
memunculkan senjata pamungkasnya, kegelapgulitaan untuk menciutkan hati
Bodhisatta, tatkala kegulitaan mendekati-Nya sirna seakan terbuyar oleh sinar mentari.
Dengan murka Marā melemparkan senjata
pamungkas yang lain cakkāvudha yang dapat membelah batu, ketika mendekati
Bodhisatta berubah menjadi payung dan melindungi-Nya.
Begitu Marā meminta diriNya
menunjukkan bukti kesempurnaan Pārāmī-Nya, Ia berseru: “Bumi yang agung ini tak
berkehendak; bumi bertindak pantas dan adil terhadap dirimu dan juga terhadap
diri-Ku; ia tidak berat sebelah padamu dan juga padaKu; biarlah Bumi yang agung
ini menjadi saksiKu!” Seraya berkata demikian, Bodhisatta mengulurkan tangan
kananNya yang agung dari dalam jubahNya untuk menyentuh tanah. Bumi yang
perkasa bergetar hebat, Marā dan pasukannya lari tunggang langgang ke seluruh
penjuru. Para dewa dan brahmā yang semula melarikan diri ketakutan, muncul dan
bernyanyi gembira.
Semadi dilanjutkan, dan tercapailah
Tiga Pengetahuan Sejati. Pada malam purnama bulan Vesākha, 588 SM, Bodhisatta
duduk bersila dengan anggun di Tahta Tak Terkalahkan (Aparājita Pallaήka)
memusatkan perhatian pada latihan Dhamma semata.
Ia
mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan ingatan kembali terhadap kehidupan
lampau (pubbenivāsānussati ñāna). Lalu Ia mengarahkan pikiranNya menuju
pengetahuan ingatan kembali terhadap lenyap dan munculnyakembali makhluk hidup
(dibbacakkhu ñāna). Tatkala pikiranNya
terkonsentrasi murni, cemerlang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa,
Ia mengarahkan-Nya menuju pengetahuan mengenai penghancuran noda (āsavakkhaya
ñāna). Ia mengetahui bahwa “Inilah penderitaan”, bahwa “Inilah sumber
penderitaan”, bahwa “Inilah akhir dari penderitaan”, dan bahwa “Inilah jalan
menuju berakhirnya penderitaan.”
Ketika Bodhisatta mencapai
Arahatta-Magga, tanpa jeda sedikit pun mencapai Arahatta-Phala, Bodhisatta
menjadi Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha) dengan mencapai kemahatahuan
(sabbaññuta nana) dan patut memperoleh sebutan “Buddha” _ Yang Tersadarkan.
Lalu, Buddha mengungkapkan dua bait
syair pujian kebahagiaan (Udāna) berikut ini :
“Anekajātisaṁsāraṁ _ Sandhāvissaṁ anibbisaṁ
Gahakāraṁ gavesanto _ Dukkhā jāti punappunnaṁ.”
“Gahakāraka diṭṭhosi _ Puna gehaṁ na kāhasi
Sabbā te phāsukā bhaggā _ Gahakūṭaṁ visaήkhitaṁ
Visaήkhāragataṁ cittaṁ _ Taήhanaṁ khayamajjhagā.”
“Tak terhingga kali kelahiran telah Kulalui
Untuk mencari, namun tak Kutemukan, pembuat rumah ini.
Sungguh menyedihkan, terlahir berulang kali!”
“O pembuat rumah! Sekarang engkau telah terlihat!
Engkau tak dapat membuat rumah lagi!
Semua kasaumu telah dihancurkan!
Batang bubunganmu telah diruntuhkan!
Kini batin-Ku telah mencapai Yang Tak Terkondisi!
Tercapai sudah berakhirnya nafsu keinginan!”
Inspirasi
yang dapat dipetik:
- Keteguhan yang luar biasa dari seorang Bodhisatta, calon Buddha.
- Sekali lagi, ia dekat dengan alam.Berada di bawah pohon Bodhi,
menghadapi Marā dan bala tentaranya, hingga terealisasi pencerahan sempurna.
- Siapa pun dapat menjadi Buddha. Dengan memahami bahwa:
- Tumimbal lahir ini
sungguh menyedihkan karena akhirnya dilanda usia tua, sakit dan kematian.
- Menemukan arsitek
pembuat rumah, yaitu : nafsu keinginan indrawi (kāma taήhā), nafsu keinginan
untuk menjadi (bhava taήhā) serta nafsu keinginan untuk tidak menjadi (vibhava
taήhā). Taήhā inilah yang menyebabkan semua makhluk melekat pada berbagai
bentuk kehidupan dan terlahir kembali dalam saṁsāra.
- Kasau rumah itu adalah
sepuluh kekotoran batin (kilesa), yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosha),
kebodohan batin (moha), kesombongan (māna), pandangan salah (diṭṭhi), keraguan (vicikicchā), kemalasan (thīna), kegelisahan (uddhacca),
ketidakmaluan moral (ahirika), dan rasa tidak takut berbuat salah (anottappa).
- Batang bubungannya
adalah kegelapan batin (avijjā), yang merupakan penyebab dari segala nafsu.
Kapak dari Magga ñāna telah meremukkan segala kasau kotoran batin serta
bubungan kegelapan batin.
Kisah
Mahaparinibbana/Pemadaman Akhir Sang Buddha
(Dīgha
Nikāya 16-17, Udāna 8.5, Aήguttara Nikāya
4. 76, 129-130, Saṁyutta Nikāya 6.15)
Setelah bertemu Pukkusa, bersama rombongan Buddha pergi ke Sungai
Kakutha untuk mandi. Lalu ia menasehati Ananda untuk pergi ke tepi sungai
Hiraññavati, di hutan Sala suku Malla, di persimpangan menuju Kusinārā.
Saat Buddha beristirahat di antara
kedua pohon sāla kembar, bunga-bunga sāla bermekaran, meski bukan pada
musimnya. Bunga-bunga karang (Pāli: mandārava, Latin: Erythirina fulgens) serta
bubuk kayu cendana surgawi tercurah dari langit, serta terus menerus bertaburan
di atas tubuh Tathāgata.
“Ānanda,
Tathāgata tidak seharusnya dihormati, dihargai, dimuliakan, dijunjung, atau
dipuja seperti ini. Namun, bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika yang hidup
berlatih sesuai Dhamma, ia menghormati, menghargai, memuliakan, menjunjung dan
memuja Tathāgata.”
Pesan terakhir Buddha kepada para bhikkhu:
“Handa dāni, bhikkhave, āmantayāmi vo,
Vayadhammā saήkhārā,
Appamādena sampādetha.”
“Para Bhikkhu, sekarang Saya nyatakan kepada kalian:
Segala hal yang terkondisi pasti akan hancur.
Berjuanglah dengan penuh kesadaran!”
Setelah berpesan demikian, Sang Buddha
memasuki jhāna pertama, kedua, ketiga, keempat, dst sampai dengan jhana
kedelapan. Mundur sampai ke jhana pertama. Kemudian memasuki jhana kedua,
ketiga, keempat, Sang Buddha mencapai Nibbāna akhir.
Pada saat itu, pada waktu jaga
terakhir malam hari, pada hari bulan purnama, bulan Vesākha 543 SM dan pada
umur delapan puluh tahun, Yang Terberkahi wafat tanpa meninggalkan sisa apa pun.
Inspirasi
yang dapat dipetik:
- Suatu kerendah hatian dari seorang Yang Tercerahkan, bahwa bukan dengan
hal-hal materi seperti bunga, dsb untuk menghormati Buddha. Melainkan dengan
mempraktikkan jalan hidup dalam Dhamma adalah penghormatan yang sejati. Inilah
kepedulian Sang Buddha kepada para siswa-Nya. Alih-alih meminta penghormatan
superficial, Beliau meminta kita bersungguh-sungguh dalam praktik kebajikan,
menghindari keburukan dan mensucikan pikiran.
- Tanpa menunjukkan siapa yang menjadi penerus Beliau dalam memimpin
sangha, Sang Buddha menetapkan Dhamma dan Vinaya lah pemimpin para bhikkhu dan
umat.
- Kembali Buddha menunjukkan kepedulian-Nya kepada alam, dengan memilih
mencapai Nibbana akhir di alam bebas, yaitu di antara pohon sala kembar di
Kusinara.
Selamat
merayakan Hari Tri Suci Waisak, dan selamat merenungi makna di baliknya.
Semoga
jasa-jasa ini melimpah kepada seluruh makhluk…
Baik
yang tampak maupun tak tampak…
Kepada
para leluhur baik di kehidupan saat ini maupun di kehidupan kami yang lampau,
yang memiliki hubungan karma dengan kami.
Semoga
semua makhluk hidup berbahagia…
Sabbe
satta bhavantu sukhitata
Sadhu
sadhu sadhu
Penceramah: Aldo Sinatra (Minggu, 25 Mei 2014)
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra