Pages

Tuesday, June 03, 2014

Resume Dhammadesana Romo Pandita Jayana

Percakapan antara romo dan pasiennya (non-Buddhis) ketika Waisak, tanggal 15 Mei 2014 lalu.

Apakah umat Buddha menyembah berhala?
Menyembah berhala itu adalah memuja untuk meminta-minta kepada sesuatu, bisa patung, keris, batu, bulan, matahari. Yang diminta bisa kekayaan, keselamatan, umur panjang, dan lain-lain.
 
Bila umat Buddha bersujud 3x di depan arca Buddha, artinya menghormat kepada Buddha sebagai guru, Dhamma Ajaran yang ditemukan-Nya, dan Sangha perkumpulan para murid-Nya yang mencapai kesucian.

Apa beda klenteng dan vihara?
Klenteng adalah tempat ibadah para keturunan Tionghoa, yang memeluk Taois, Konghucu dan Buddhis.

Sedangkan vihara dikhususkan untuk umat Buddha, tanpa mengenal latar belakang kesukuan, etnis, dan sebagainya.

Lalu umat Buddha menyembah ke siapa?
Ajaran Buddha beda dengan agama lain. Di dalam agama Buddha, kita tidak pernah meminta-minta. Umat Buddha melakukan membaca paritta, yang berisi sabda Buddha dan terjemahkan maknanya.

Apakah di dalam agama Buddha mengenal Adam-Hawa?
Di dalam agama Buddha tidak mengenal manusia pertama. Konsep agama lain, Tuhan menciptakan bumi dan semesta. Sampe hari ke-7 menciptakan manusia, Adam-Hawa. (Lihat di Aganna Sutta tentang konsep proses evolusi dunia menurut agama Buddha).
Di dalam agama Buddha dikenal hukum-hukum alam yang disebut Panca Niyama Dhamma:
  1. Utu Niyama berhubungan dengan musim, termasuk munculnya bumi, bulan, semesta. 
  2. Bija Niyama hukum biologis yang mengatur tumbuh2an; termasuk rasa manis, asem, dan sebagainya.
  3. Kamma Niyama hukum sebab akibat perbuatan.
  4. Dhamma Niyama hukum keseimbangan, listrik, gravitasi.
  5. Citta Niyama hukum pikiran, seperti bisa melihat pikiran orang lain, dapat melihat masa lalu

Apa arti Buddha?

Ada 4 jenis Buddha: 
  1. Sammasambuddha, seseorang yang mencapai kesempurnaan sempurna, atas usaha sendiri tanpa pemberian/petunjuk orang lain, untuk kesejahteraan banyak pihak.
  2. Pacceka Buddha, orang yang mencapai kesempurnaan, atas usaha sendiri tapi tidak dapat mengajarkan ajaran-Nya.
  3. Sutta Buddha, orang yang mencapai kebijaksanaan atas bimbingan dan ajaran dari Sang Buddha langsung.
  4. Savaka Buddha, tiap orang yang dapat realisasi kesempurnaan, meski Sang Buddha sudah parinibbana, selama dapat menjalankan ajaran-Nya.

Apakah dalam Ajaran Buddha ada Surga-Neraka?

Sang Buddha dengan kebijaksanaan sempurna mampu melihat ada 31 alam kehidupan. 4 alam sengsara (neraka), ke-5 alam manusia, dari alam ke-6 31 adalah alam bahagia (surga). Manusia sendiri yang menentukan/mengatur berdasarkan perbuatannya baik atau buruk, bukan diatur oleh orang atau pihak lain.

Apakah agama Buddha percaya pada Tuhan?
Percaya. Akan tetapi konsep Buddhis beda. Tuhan dalam agama Buddha adalah tujuan akhir. Yaitu mencapai keadaan, di mana suatu saat nanti, kita tidak akan lahir, tidak mati, tidak terbentuk, tidak terkondisi. Yang disebut Nibbana, atau Nirwana dalam bahasa Sanskerta. Pencapaian tersebut tanpa bantuan orang lain, harus dicapai oleh usaha diri sendiri.

Apa tujuan akhir umat Buddha?
Bukan mencapai surga, tapi mencapai Nibbana. Tanpa mula tanpa akhir. Tidak lahir, tidak sakit, tidak tua, tidak mati.


Penceramah: Romo Pandita Jayana (Minggu, 01 Juni 2014)  
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra

Sunday, June 01, 2014

Perayaan Waisak 2558 BE - 2014 SMB VKM

Minggu, 01 Juni 2014 anak-anak SMB VKM (Sekolah Minggu Buddhis Vihara Karuna Mukti) merayakan Waisak. Acara diisi dengan pembukaan dari Kak Lani, kata sambutan Kepala SMB VKM (Aris Setiawan), lalu diisi dengan penampilan anak-anak SMB (joget, main angklung, main recorder, dan menyanyi).

Dilanjutkan dengan pembagian hadiah lomba kepada pemenang (lomba dalam rangka Waisak 2558 BE -2014) yang telah selesai dilaksanakan.

Berikut liputan perayaan Waisak SMB VKM dalam rangkaian foto hasil bidikan kamera Hendry Filcozwei Jan.


Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar


  Kata Sambutan Aris Setiawan
  Ucapan Waisak

Kenzo Joget

 Revata Memainkan lagu "Lihat Kebunku" dan "Twinkle Twinkle Littele Star" dengan Recorder

Revata Memainkan lagu "Lihat Kebunku" dan "Twinkle Twinkle Littele Star" dengan Angklung

Lomba Busana Terunik

  Catta Menyanyi

 Nyanyi Bersama

 Siap menerima hadiah lomba Cerdas Cermat Buddhis

Pemberian hadiah untuk juara 3 lomba Cerdas Cermat Buddhis

Pemberian hadiah untuk juara 2 lomba Cerdas Cermat Buddhis

 Pemberian hadiah untuk juara 1 lomba Cerdas Cermat Buddhis

 Foto bersama para juara lomba Cerdas Cermat Buddhis



 
Pemenang lomba Baca Paritta


Ibu Satirah membagikan hadiah untuk lomba Baca Paritta
 




  Foto bersama para pemenang lomba Baca Paritta


 Pemenang lomba menghias nasi goreng

 "Siapa bisa jawab pertanyaan akan dapat hadiah" kata Kak Lani. Dhika lagi jawab pertanyaan


Neylam menyanyi


 Vania dan Cinta menyanyi
 
 Virya ikut mengisi acara (menyanyi)


  Ulang tahun bersama anak-anak SMB VKM
  "Tiup lilinnya... tiup lilinnya..."
"Potong kuenya... potong kuenya...."


Catatan yang Tersisa:
Di sela-sela meliput perayaan Waisak anak-anak SMB VKM, ada hal yang menarik perhatian penulis. Tingkah laku anak kecil memang menarik dan bagus untuk dijadikan objek foto (terutama untuk foto candid). Berikut 3 pose Celline hasil jepretan PapaDhikaRevata (bukan paparazzi lho).





Liputan dan foto oleh: Hendry Filcozwei Jan

Friday, May 30, 2014

Resume Dhammadesana Aldo Sinatra

Sukho Buddhānaṁ uppādo 
sukhā saddhammadesanā 
sukhā saήghassa sāmaggi 
samāgganaṁ tapo sukho 

Kelahiran para Buddha merupakan sebab kebahagiaan
Pembabaran Ajaran Benar merupakan sebab kebahagiaan
Persatuan Sangha merupakan sebab kebahagiaan
Dan usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan
(Dhammapada XIV, 194)


Kisah Kelahiran Bodhisatta di Taman Lumbini 
(Majjhima Nikāya 123)
  
Tatkala usia kehamilan sepuluh bulan, Ratu Mahamaya ingin mengunjungi orangtuanya ke Devadaha, Kosala. Seperti tradisi turun temurun di India, bahwa seorang istri melahirkan di rumah ayahnya sendiri.

Ketika arakan kerajaan memasuki sebuah hutan pohon Sāla (Shorea robusta) untuk wisata, yang disebut Taman Lumbinī, antara Kapilavatthu dan Devadaha.

Ratu Mahamaya ingin berjalan-jalan menghibur diri menikmati keindahan taman yang bagai Taman Cittalatā milik Deva Sakka. 

Ketika tangan kanannya menjulur menggapai salah satu dahan, terjadi keajaiban bahwa salah satu dahan lurus menekuk ke bawah dengan sendirinya bagai batang tebu sampai mencapai telapak tangan sang ratu. Sembari berpegangan pada dahan pohon sāla, ia melahirkan bayi laki-laki dalam posisi berdiri. Kejadian ini terjadi pada bulan purnama bulan Vesākha, tahun 623 SM.

Kemudian Boddhisatta berdiri dengan kukuh, memandang ke sepuluh penjuru, menyadari tiada satu makhluk pun yang lebih luhur dari-Nya. Ia menghadap ke utara dan berjalan maju tujuh langkah. Bunga teratai muncul dari tanah di bawah setiap jejak telapak kaki-Nya.

Bodhisatta berhenti pada langkah ketujuh, mengangkat tangan kanan di atas kepala-Nya, dengan lantang Ia berseru:

“Aggo’haṁ asmi lokassa! 
Jeṭṭo’haṁ asmi lokassa! 
Seṭṭo’haṁ asmi lokassa! 
Ayaṁ antima jāti! 
Natthi dāni punabbhavo!” 

“Akulah yang terluhur di dunia ini! 
Akulah yang teragung di dunia ini! 
Akulah yang termulia di dunia ini! 
Inilah kelahiran-Ku yang terakhir! 
Tak aka nada lagi kelahiran kembali bagi-Ku!”

Bersamaan dengan kelahiran Bodhisatta, terlahir pula tujuh makhluk lainnya, yaitu: Putri Yasodharā, Pangeran Ānanda, kusirnya Channa, menteri Kāludāyī, kuda istana Kanthaka, pohon Bodhi dan empat jambangan harta (Nidhikumbhi).

Inspirasi yang dapat dipetik:
  1. Kelahiran Bodhisatta di alam terbuka, menunjukkan kedekatan dengan alam.
  2. Dengan PD dan saddha (keyakinan)-Nya, bahwa ia merasa yakin dan pasti, bahwa inilah kelahiran terakhir-Nya, tiada makhluk yang memiliki kepastian keyakinan seperti yang Ia sampaikan
  3. Berbagai “keanehan” yang menyertai kelahiran-Nya merupakan wujud kebesaran dan naungan parami yang dikumpulkan-Nya.

Bagi para kaum skeptik, pasti meragukan bahwasannya seorang bayi yang lahir dapat langsung berjalan tujuh langkah dan berbicara.
  
Tetapi, mohon diingat, ketika Ia ber-addhitana (tekad) menjadi Sammasambuddha, sesungguhnya ia sudah dapat merealisasikan kesucian penuh Arahatta pada kehidupan itu juga. Namun, karena Mahakaruna (welas asih luhur) kepada semua makhluk serta upaya kosala nana (upaya piawai), Ia menunda kesempurnaan-Nya.
  
Pikiran petapa Sumedha ketika menelungkupkan diri di rawa berlumpur sambil bercita-cita menjadi Buddha: “Jika memang kukehendaki, bisa saja aku mengenyahkan semua noda batin (āsava) dan membasmi semua kekotoran batin (kilesa) hari ini juga dan menjadi Arahāt. Akan tetapi, apalah gunanya menghindari lingkaran kelahiran dan kematian (saṁsāra) ini sendirian saja? Dengan kepiawaian-Ku dalam keyakinan, daya dan kebijaksanaan, aku akan mengerahkan usaha sebaik mungkin untuk menjadi Buddha Mahatahu dan membebaskan segenap makhluk dari lingkaran kelahiran, samudera penderitaan ini.” 

Kisah Pencapaian Pencerahan Petapa Gotama Menjadi Buddha 
(Majjhima Nikāya 36, Dhammapada 154)

Setelah melewati enam tahun masa dukkharacariya, Bodhisatta menuju ke Hutan Gayā, ke kaki pohon Bodhi (Pāli: assattha, Latin: Ficus religiosa). Ketika itu di kediamannya di dunia Paranimmitavasavattī-Deva, Marā memerintahkan prajuritnya menebar rasa ngeri menyerang, menaklukkan, menghancurkan, serta mengguncang Pangeran Siddhatta dengan menunggang gajah bengis Girimekhala. Namun pikiran-Nya tetap tercerap dalam meditasi yang dalam. 
 
Ada sepuluh pertanda buruk kedatangan Marā: 1) ribuan meteor jatuh dengan lebat dan menakutkan, 2) kegelapan total timbul seiring dengan munculnya halimun, 3) samudera dan bumi berguncang dengan keras, 4) kabut muncul di samudera, 5) banyak sungai yang airnya mengalir ke hulu, 6) puncak-puncak gunung runtuh ke tanah, 7) banyak pepohonan yang tumbang, 8) badai dan angin bertiup dengan kencang, 9) badai dan angin keras menimbulkan suara yang menakutkan, 10) matahari lenyap ditelan kegelapan dan tubuh-tubuh tanpa kepala berterbangan di angkasa.

Akan tetapi, Bodhisatta tetap duduk dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun, laksana raja singa Kesaraja yang duduk dengan tenang di antara hewan lainnya.

“Begitu hebatnya serangan Marā ini terhadap diri-Ku; ibu-Ku, ayah-Ku, saudara-Ku, maupun anggota keluarga-Ku yang lain, tak satu pun dari mereka berada di sini. Hanya Sepuluh Kesempurnaan (Pārāmī) yang telah Kukembangkan dan Kulatih sedemikian lamanya inilah yang akan menemaniKu dan menjadi pelindungKu satu-satunya. Tak satu pun hal lainnyayang dapat Kuandalkan untuk menghalau gerombolan Marā ini, kecuali senjata Pārāmī-Ku.

Awalnya Marā menciptakan topan badai, lalu awan tebal dengan hujan sangat deras, kemudian menghujani senjata panas; tombak, pedang, Mandau, pisau jagal, anak panah, seperti batu menyala. Namun sesampai Bodhi Mandala, semuanya berubah menjadi aneka ragam kembang surgawi.

Marā kemudian menyiramkan debu-debu panas dari langit, yang akhirnya menjadi serbuk cendana ketika mendekati kaki Bodhisatta. Kembali ia menciptakan pasir berasap yang menyala-nyala, berubah menjadi bubuk bunga surgawi. Setelah itu, menyerang dengan lumpur panas, berubah jadi ramuan wangi surgawi.

Lalu, memunculkan senjata pamungkasnya, kegelapgulitaan untuk menciutkan hati Bodhisatta, tatkala kegulitaan mendekati-Nya sirna seakan terbuyar oleh sinar mentari.

Dengan murka Marā melemparkan senjata pamungkas yang lain cakkāvudha yang dapat membelah batu, ketika mendekati Bodhisatta berubah menjadi payung dan melindungi-Nya.

Begitu Marā meminta diriNya menunjukkan bukti kesempurnaan Pārāmī-Nya, Ia berseru: “Bumi yang agung ini tak berkehendak; bumi bertindak pantas dan adil terhadap dirimu dan juga terhadap diri-Ku; ia tidak berat sebelah padamu dan juga padaKu; biarlah Bumi yang agung ini menjadi saksiKu!” Seraya berkata demikian, Bodhisatta mengulurkan tangan kananNya yang agung dari dalam jubahNya untuk menyentuh tanah. Bumi yang perkasa bergetar hebat, Marā dan pasukannya lari tunggang langgang ke seluruh penjuru. Para dewa dan brahmā yang semula melarikan diri ketakutan, muncul dan bernyanyi gembira.

Semadi dilanjutkan, dan tercapailah Tiga Pengetahuan Sejati. Pada malam purnama bulan Vesākha, 588 SM, Bodhisatta duduk bersila dengan anggun di Tahta Tak Terkalahkan (Aparājita Pallaήka) memusatkan perhatian pada latihan Dhamma semata.

Ia mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan ingatan kembali terhadap kehidupan lampau (pubbenivāsānussati ñāna). Lalu Ia mengarahkan pikiranNya menuju pengetahuan ingatan kembali terhadap lenyap dan munculnyakembali makhluk hidup (dibbacakkhu ñāna). Tatkala pikiranNya  terkonsentrasi murni, cemerlang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, Ia mengarahkan-Nya menuju pengetahuan mengenai penghancuran noda (āsavakkhaya ñāna). Ia mengetahui bahwa “Inilah penderitaan”, bahwa “Inilah sumber penderitaan”, bahwa “Inilah akhir dari penderitaan”, dan bahwa “Inilah jalan menuju berakhirnya penderitaan.”

Ketika Bodhisatta mencapai Arahatta-Magga, tanpa jeda sedikit pun mencapai Arahatta-Phala, Bodhisatta menjadi Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha) dengan mencapai kemahatahuan (sabbaññuta nana) dan patut memperoleh sebutan “Buddha” _ Yang Tersadarkan.

Lalu, Buddha mengungkapkan dua bait syair pujian kebahagiaan (Udāna) berikut ini :

“Anekajātisaṁsāraṁ _ Sandhāvissaṁ anibbisaṁ 
 Gahakāraṁ gavesanto _ Dukkhā jāti punappunnaṁ.” 

“Gahakāraka diṭṭhosi _ Puna gehaṁ na kāhasi 
Sabbā te phāsukā bhaggā _ Gahakūṭaṁ visaήkhitaṁ 
Visaήkhāragataṁ cittaṁ _ Taήhanaṁ khayamajjhagā.” 

“Tak terhingga kali kelahiran telah Kulalui 
Untuk mencari, namun tak Kutemukan, pembuat rumah ini. 
Sungguh menyedihkan, terlahir berulang kali!” 

“O pembuat rumah! Sekarang engkau telah terlihat! 
Engkau tak dapat membuat rumah lagi! 
Semua kasaumu telah dihancurkan! 
Batang bubunganmu telah diruntuhkan! 
Kini batin-Ku telah mencapai Yang Tak Terkondisi! 
Tercapai sudah berakhirnya nafsu keinginan!”


Inspirasi yang dapat dipetik: 
  1. Keteguhan yang luar biasa dari seorang Bodhisatta, calon Buddha.
  2. Sekali lagi, ia dekat dengan alam.Berada di bawah pohon Bodhi, menghadapi Marā dan bala tentaranya, hingga terealisasi pencerahan sempurna.
  3. Siapa pun dapat menjadi Buddha.  Dengan memahami bahwa:

  • Tumimbal lahir ini sungguh menyedihkan karena akhirnya dilanda usia tua, sakit dan kematian.
  • Menemukan arsitek pembuat rumah, yaitu : nafsu keinginan indrawi (kāma taήhā), nafsu keinginan untuk menjadi (bhava taήhā) serta nafsu keinginan untuk tidak menjadi (vibhava taήhā). Taήhā inilah yang menyebabkan semua makhluk melekat pada berbagai bentuk kehidupan dan terlahir kembali dalam saṁsāra.
  • Kasau rumah itu adalah sepuluh kekotoran batin (kilesa), yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosha), kebodohan batin (moha), kesombongan (māna), pandangan salah (diṭṭhi), keraguan (vicikicchā), kemalasan (thīna), kegelisahan (uddhacca), ketidakmaluan moral (ahirika), dan rasa tidak takut berbuat salah (anottappa).
  • Batang bubungannya adalah kegelapan batin (avijjā), yang merupakan penyebab dari segala nafsu. Kapak dari Magga ñāna telah meremukkan segala kasau kotoran batin serta bubungan kegelapan batin.

Kisah Mahaparinibbana/Pemadaman Akhir Sang Buddha 
(Dīgha Nikāya 16-17, Udāna 8.5, Aήguttara Nikāya 4. 76, 129-130, Saṁyutta Nikāya 6.15)

Setelah bertemu Pukkusa, bersama rombongan Buddha pergi ke Sungai Kakutha untuk mandi. Lalu ia menasehati Ananda untuk pergi ke tepi sungai Hiraññavati, di hutan Sala suku Malla, di persimpangan menuju Kusinārā.

Saat Buddha beristirahat di antara kedua pohon sāla kembar, bunga-bunga sāla bermekaran, meski bukan pada musimnya. Bunga-bunga karang (Pāli: mandārava, Latin: Erythirina fulgens) serta bubuk kayu cendana surgawi tercurah dari langit, serta terus menerus bertaburan di atas tubuh Tathāgata.

“Ānanda, Tathāgata tidak seharusnya dihormati, dihargai, dimuliakan, dijunjung, atau dipuja seperti ini. Namun, bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika yang hidup berlatih sesuai Dhamma, ia menghormati, menghargai, memuliakan, menjunjung dan memuja Tathāgata.” 

Pesan terakhir Buddha kepada para bhikkhu:

“Handa dāni, bhikkhave, āmantayāmi vo, 
Vayadhammā saήkhārā, 
Appamādena sampādetha.” 

“Para Bhikkhu, sekarang Saya nyatakan kepada kalian: 
Segala hal yang terkondisi pasti akan hancur. 
Berjuanglah dengan penuh kesadaran!”
 
Setelah berpesan demikian, Sang Buddha memasuki jhāna pertama, kedua, ketiga, keempat, dst sampai dengan jhana kedelapan. Mundur sampai ke jhana pertama. Kemudian memasuki jhana kedua, ketiga, keempat, Sang Buddha mencapai Nibbāna akhir.

Pada saat itu, pada waktu jaga terakhir malam hari, pada hari bulan purnama, bulan Vesākha 543 SM dan pada umur delapan puluh tahun, Yang Terberkahi wafat tanpa meninggalkan sisa apa pun.

Inspirasi yang dapat dipetik:
  1. Suatu kerendah hatian dari seorang Yang Tercerahkan, bahwa bukan dengan hal-hal materi seperti bunga, dsb untuk menghormati Buddha. Melainkan dengan mempraktikkan jalan hidup dalam Dhamma adalah penghormatan yang sejati. Inilah kepedulian Sang Buddha kepada para siswa-Nya. Alih-alih meminta penghormatan superficial, Beliau meminta kita bersungguh-sungguh dalam praktik kebajikan, menghindari keburukan dan mensucikan pikiran.
  2. Tanpa menunjukkan siapa yang menjadi penerus Beliau dalam memimpin sangha, Sang Buddha menetapkan Dhamma dan Vinaya lah pemimpin para bhikkhu dan umat.
  3. Kembali Buddha menunjukkan kepedulian-Nya kepada alam, dengan memilih mencapai Nibbana akhir di alam bebas, yaitu di antara pohon sala kembar di Kusinara.

Selamat merayakan Hari Tri Suci Waisak, dan selamat merenungi makna di baliknya.
Semoga jasa-jasa ini melimpah kepada seluruh makhluk…
Baik yang tampak maupun tak tampak…
Kepada para leluhur baik di kehidupan saat ini maupun di kehidupan kami yang lampau, yang memiliki hubungan karma dengan kami.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia…
Sabbe satta bhavantu sukhitata
Sadhu sadhu sadhu 

Penceramah: Aldo Sinatra (Minggu, 25 Mei 2014)  
Resume ceramah oleh Aldo Sinatra

Sunday, May 25, 2014

Laporan dari Waisak di Candi Jiwa, Karawang (25-05-2014)

Minggu, 25 Mei 2014 rombongan umat Vihara Karuna Mukti (Bandung) menggunakan 2 mobil (bus dan minibus) berangkat ke Candi Jiwa, Karawang.

Perayaan Waisak 2558 BE -2014 ini merupakan perayaan Waisak ke-7 yang dilaksanakan di Candi Jiwa. Bagi admin (HFJ) ini adalah kunjungan pertama ke Candi Jiwa, Karawang. Ini adalah kesempatan untuk ke-3 kalinya admin mendengarkan secara langsung ceramah Dhamma Bhante Uttamo Mahathera. Ketika acara selesai, admin berkesempatan foto bareng Bhante Uttamo.

Secara keseluruhan, acara yang persiapkan umat Buddha dari berbagai mashab ini  berlangsung sukses dan lancar. 

Tema Waisak tahun 2014 ini  "Kerukunan Dasar Keutuhan" tercermin dari rukunnya panitia dalam pelaksanaan hari besar agama Buddha ini dan tamu undangan yang hadir. Ada Bupati Karawang, Drs. H. Ade Swara, MH beserta ibu, unsur TNI dan polri. Juga hadir Direktorat Jenderal Bimas Buddha, Drs. Dasikin, M.Pd. dan Pembimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Prov. Jabar, Eko Supeno, S.Ag.

Pesan Waisak oleh Bhante Uttamo Mahathera yang penuh humor memang momen yang paling ditunggu. Maaf jika tulisan ini tidak dilengkapi foto saat Bhante Uttamo saat menyampaikan pesan Waisak karena admin duduk persis di belakang beliau (sangat tidak pantas hilir mudik untuk mengambil foto). Seorang pria seorang pria berseragam (ajudan Dirjen Bimas Buddha?) sampai mengingatkan panitia agar saat acara tidak lagi ada umat yang hadir hilir mudik, terlebih saat Bhante Uttamo berbicara. Tapi tetap saja yang yang hilir mudik. 

Berikut rekaman gambar dan video yang berhasil diabadikan Hendry Filcozwei Jan.


Altar Perayaan Waisak 2558 BE - 2014 di Candi Jiwa, Karawang








MC dan penyanyi dari homeband menghibur sebelum acara dimulai.




MC (kiri) dan penyanyi dari homeband (kanan) menghibur sebelum acara dimulai.


Aksi penyanyi asal Tangerang yang menyanyikan lagu "Lentera Dunia", "Hadirkan Cinta" dan "Harumnya Kebajikan" karya Joky, pencipta lagu Buddhis kenamaan.


















Rombongan Bhikkhu memasuki lokasi perayaan Waisak.














Persembahan Puja Waisak 2558 BE - 2014




Tamu undangan yang hadir



Persembahan Puja Waisak 2558 BE - 2014






Penyalaan lilin oleh Bhante Cittagutto Thera




Drs. H. Ade Swara, MH beserta ibu.











Drs. H. Ade Swara, MH saat akan menyampaikan kata sambutan.

Bhikku Sangha










Tamu undangan yang hadir dari unsur polri, TNI, dan Bupati Karawang







Video Perayaan Wasak 2558 - 2014 di Candi Jiwa, Karawang




 

Blogger news

Blogroll

About